Sugeng Rawuh wonten blog kula,mugi-mugi panjenengan sedaya saged remen kaliyan blog kula lan ampun kesupen ngisi buku tamunipun gih.matur nuwun sanget.Nuwun

Senin, 10 November 2008

Antara Obama, Indonesia, dan Islam



BAGI Senator Illinois Barack Obama, kepastian menang dalam pemilihan calon Presiden AS dari Partai Demokrat ibarat tinggal menunggu waktu. Ia sudah unggul jauh dari pesaingnya, Senator New York Hillary Rodham Clinton.

Dengan posisi seperti sekarang, Obama hanya perlu menjaga performanya di enam primary election tersisa. Maya Soetoro-Ng, adik tiri Obama, mengungkap banyak sisi tentang laki-laki kelahiran Hawaii itu, termasuk hubungan emosi Obama dengan Indonesia dan Islam.

Bagaimana hubungan Anda, Obama, dan ibu?

Keluarga kami sangat informal. Kami senang tertawa, duduk di lantai, bermain di taman, memanjat pohon. Ibu memberikan perhatian besar kepada kami dan ia senang berbicara panjang-panjang.

Pada 1973, kami ke Hawaii dan tinggal di Jalan Poke sampai 1976. Ketika ibu kembali ke Indonesia untuk melakukan penelitian, saya ikut dengannya. Sementara Obama tinggal bersama kakek dan neneknya sampai 1979, saat ia lulus dari SMA.

Ketika dipisahkan jarak yang begitu jauh, ibu selalu menulis surat panjang untuk Obama dan Obama juga menuliskan surat panjang untuk Ibu. Tapi, praktis kami tidak pernah berpisah. Kami selalu menghabiskan musim panas bersama. Di masa-masa itu Obama juga beberapa kali kembali ke Indonesia.

Apa yang diwarisi Obama dari sifat ibu?

Banyak. Kebaikan hati, semangat, kemampuan mengenal orang lain dengan latar belakang berbeda, bersimpati, dan berempati. Ibu idealistis sekaligus praktis. Ini juga yang diwarisi Obama. Ibu menyukai bahasa dan pembicaraan, serta cerita dan bercerita.

Saya kira kemampuan Obama merangkul banyak orang dalam kampanyenya karena ia memang menyukai cerita. Ia merangkai cerita-cerita itu dan menemukan bahwa satu cerita mewarnai cerita lain. Ia mengangkat pengalaman hidup individu sebagai pengalaman hidup bersama rakyat AS.

Bagaimana pengalaman Obama di Indonesia dan apakah pengetahuannya tentang negara ini bisa membantu bila ia terpilih sebagai Presiden AS?

Obama mempelajari banyak hal dari Indonesia. Ini adalah tempat pertama ia belajar seni memahami.

Di Indonesia, untuk pertama kali ia belajar bernegosiasi, berteman dengan orang-orang yang berbeda latar belakang. Indonesia adalah tempat pertama ia mempelajari fleksibilitas. Lebih jauh lagi, Indonesia adalah tempat pertama ia memahami kompleksitas dunia.

Obama terakhir kali ke Indonesia pada 1991, saat ia menulis buku Dream From My Father. Ia bilang kepada saya, dalam kunjungan itu ia makin memahami Indonesia dan masyarakatnya.

Apakah Obama masih bisa berbahasa Indonesia?

Oh, ya, bisa sedikit. Setiap kali saya ke Chicago, ia bilang, ‘Eh, Maya, pijit dikit, pijit dikit.’ Lalu, ‘Aduh, kuat tangannya.’ Selebihnya, ia tidak percaya diri untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan orang lain. Dengan saya, ia cukup confident.

Apakah benar nama tengah Obama adalah Hussein?

Benar. Ia adalah Barack Hussein Obama Junior.

Kelihatannya Obama khawatir dirinya dikaitkan dengan Islam…

Faktanya, Obama adalah penganut Kristen. Ia tidak menampik dan tidak khawatir, tapi ia peduli agar semua hal dilaporkan secara akurat. Ia telah menjelaskan secara terbuka hubungannya dengan Islam. Tapi, penjelasan ini telah digunakan untuk menyerang seolah-olah Obama berbohong dan menyembunyikan sesuatu yang rahasia. And it is terrible.

Saya pernah ditanya sebuah media, apa hubungan Anda dengan Islam. Saya katakan bahwa saya bukan penganut Islam, tapi semua keluarga saya adalah orang Islam. Maksudnya adalah semua keluarga saya di Indonesia (dari pihak ayah, Lolo Soetoro).

Mereka menggunakan ini berulangkali untuk menyerang Obama dan mengatakan ia berbohong. ‘Lihat, Barry berbohong. Adiknya, Maya, mengatakan semua anggota keluarganya orang Islam.’ Padahal, konteks dari pembicaraan itu adalah keluarga saya di Indonesia.

Bila Anda mencari informasi tentang ayah saya, Anda akan menemukan bagian yang mengatakan bahwa ia adalah seorang Islam fundamentalis. Atau, yang lebih parah lagi, ibu saya, Stanley Ann Dunham, disebutkan sebagai orang yang secara rahasia mendukung Islam fundamentalis dan ingin agar anaknya didoktrinasi nilai-nilai Islam fundamentalis.

Tentu, kami pernah tinggal di Indonesia dan mendengarkan adzan untuk shalat di pagi hari. Ibu saya bilang itu sungguh indah. Ayah mungkin bukan orang Islam yang baik, tapi ia tetap Islam. Saya kembali ke kuburannya dan mengadakan seremoni untuk mengenangnya, berdoa. Anyway, it was lovely.

Tapi, cerita ini diambil begitu saja, dicabut dari konteksnya, dan digunakan untuk mendistorsi perhatian orang.

Ini situasi yang menantang. Secara personal, saya merasa bagus bila AS punya presiden yang punya pengalaman dengan Islam, yang pernah menghabiskan waktu di negara muslim, di mana manusia adalah manusia. Mereka melakukan hal-hal yang sama seperti yang dilakukan manusia lain di muka bumi untuk menghidupi keluarga dan sebagainya.

Dalam proses pemilihan ini, isu ini sangat sensitif. Dan Anda harus hati-hati karena dapat digunakan pihak lain untuk kepentingan mereka, dan membuat orang lain yang terpilih.

Possibly related posts: (automatically generated)

* Koran dan Media Online Nasional
* Kumpulan Situs Islami
* .or.id islam (google search)

Baca Selengkapnya..

Sabtu, 08 November 2008

7 keajaiban dunia menurut Islam



Januari 1, 2008
Tujuh Keajaiban Dunia Menurut Islam
Diarsipkan di bawah: Aqidah - العقيدة — Tag:ahlussunnah, alussunnah wal jama'ah, Hadits, Kisah Nyata, salafi, salafy, tujuh keajaiban dalam Islam, tujuh keajaiban dunia — muwahiid @ 9:40 am

Tujuh Keajaiban Dunia

Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 46 Tahun I.

Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel

Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka’bah, Menara Eiffel, dan Piramida di mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita kenal. Namun sebenarnya semua itu belum terlalu ajaib, karena di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu?

Memang tujuh keajaiban lain yang kami akan sajikan di hadapan pembaca sekalian belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:

* Hewan Berbicara di Akhir Zaman

Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,

“Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.

Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]

Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]

* Pohon Kurma yang Menangis

Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur,

“Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]

Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,

“Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]

* Untaian Salam Batu Aneh

Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,

Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].

* Pengaduan Seekor Onta

Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya.

Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.

Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

* Kesaksian Kambing Panggang

Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:

Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,

“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

* Batu yang Berbicara

Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]

* Semut Memberi Komando

Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,

“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).

Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin


Diambil dari www.almakassari.com

Baca Selengkapnya..

Kemegahan masjid terbesar di Eropa, lukisan keagungan Islam



CHECHNYA (Suaramedia) - Sebuah Masjid baru di daerah Chechnya - digambarkan sebagai Masjid terbesar di Eropa – telah diresmikan.
Masid Pusat Chechnya telah dibangun di pusat ibu kota, Grozny, di tempat dimana perang sipil beberapa tahun lalu meledak.
Ratusan penduduk sekitar mendatangi peresmian Masjid yang dibangun untuk memeringati terbunuhnya pemimpin pro-Kremlin Chechnya, Akhmad Kadyrov.
Putranya yang bernama Ramzan –penguasa saat ini – memimpin upacara pembukaan Masjid tersebut. Beberapa Muslim memainkan alat-alat musik tradisional di depan Masjid yang dibangun dengan gaya klasik Ottoman itu, sekilas mengingatkan kepada Masjid Sultan Ahmad di Istanbul.

Bangunan yang mengadaptasi struktur bangunan Turki ini dapat menampung sekitar 1.000 orang. Masjid ini berdiri dengan gagahnya di tempat yang dulunya merupakan reruntuhan, kata seorang koresponden BBC, James Rodgers.
Sedangkan menaranya menjunjung tinggi di pusat Grozny, dimana masih banyak jalan dalam tahap pembangunan.

Beberapa tahun silam, di tempat Masjid dan wilayah di sekitarnya tersebut hanya sebidang tanah dengan bangunan yang hampir roboh.

Ramzan Kadyrov telah mengepalai program pendanaan Masjid Moskow, dengan proyek Masjid tersebut sebagai program intinya.

Seperti ayahnya, Tuan Kadyrov juga pernah melawan peraturan Moskow, namun akhirnya berpindah pihak.

Pada upacara pembukaan Masjid tersebut, dia menunjukkan kesetiaannya pada Kremlin, mengatakan bahwa dengan bantuan kekuasaan federal, masyarakat Chechen –penduduk asli Chechnya - dapat menghentikan rencana penggulingan Rusia.

“Masyarakat Chechen…telah memertahankan keutuhan Rusia serta kesmurnian Islam”. (by BBC) dikutip http://www.suaramedia.com ) Visit Orgl Info Vast New Mosque opens In Chechnya

Baca Selengkapnya..

keagungan Islam



Keagungan dan Kebesaran Islam

November 23, 2007 by easternearth

Rasulullah SAW diutus oleh Allah ke dunia ini dengan membawa agama Islam. Beliaulah disebut sebagai pembawa rahmat kepada seluruh alam. Agama Islam yang diberikan Allah kepada Rasulullah SAW adalah untuk memimpin umat manusia ini. Allah berfirman di dalam Al Quran:

“Dan tidaklah Aku mengutus Engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat kepada semesta alam.” (QS Al Anbiyaa’ 107)

Ayat ini menyatakan bahwa rahmat yang dibawa oleh Rasulullah itu adalah umum kepada semua manusia tetapi secara hakekatnya rahmat itu dikhususkan kepada orang-orang beriman semata. Selain orang-orang yang beriman, mereka tidak mendapatkan rahmat bahkan mereka cenderung merasa tidak senang hati dengan ajaran Islam dan kedatangan Al Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Kedatangan Rasulullah yang pada beliau disampaikan agama Islam dan dengan agama ini Rasulullah menyampaikannya kepada umat serta memimpin umat hingga umat ini menerima Allah dan menerima Rasul-Nya, inilah letak rahasia keagungan Islam dan kebesaran Islam.


Jadi, apakah yang dikatakan dengan keagungan Islam atau kebesaran Islam itu? Sebelum kita membicarakan mengenai hal ini, mari kita coba memaparkan beberapa pendapat yang telah sering kita dengar dan biasa disampaikan kepada umat Islam tentang apa yang dimaksudkan dengan keagungan Islam itu.

Salah satu dari pada pendapat-pendapat tersebut mengatakan bahwa setelah umat ini menerima agama Islam, mereka telah terdorong untuk menuntut ilmu pengetahuan dan terdorong untuk berpikir sehingga lahirlah ahli-ahli filsafat,para pemikir dan ilmuwan di kalangan masyarakat Islam seperti Imam Ghazali Rahimahumullahu Taala, Ibnu Rusyd, Al Farabi, Ibnu Sina, dan beribu-ribu lagi tokoh Islam yang lain. Mereka menjadi filsuf dan pakar ilmu di bidang masing-masing disebabkan agama Islam mendorong mereka mencari dan menyelidiki ilmu pengetahuan. Karena itulah maka ada sebagian umat Islam yang menilai hal ini sebagai sebab-sebab keagungan Islam. Mereka mengatakan bahwa kebesaran Islam itu adalah karena Islam telah melahirkan imuwan-ilmuwan yang terkenal karena agama Islam itu mendorong umatnya menuntut ilmu dan melakukan penelitian.

Tapi mari kita renungkan pendapat ini. Kalau hanya untuk mendorong manusia untuk mencari ilmu pengetahuan serta mengenbangkan ilmu di berbagai bidang sehingga menjadi ilmuwan dan ahli filsafat yang terkenal, kita rasa tidak perlu didatangkan Rasulullah SAW yang membawa ajaran Islam juga tidak perlu didatangkannya Al Qur’an dan Sunnah pun manusia juga bisa menjadi pandai dan sanggup mengkaji ilmu pengetahuan di berbagai bidang sehingga manusia banyak yang menjadi ahli filsafat dan ilmuwan. Ini telah dibuktikan oleh sejarah manusia. Umpamanya di kalangan bangsa Yunani telah muncul banyak filsuf dan pemikir-pemikir besar dan kecil seperti Aristoteles, Plato, Socrates dan lain-lain. Mereka menguasai ilmu pengetahuan di bidang masing-masing sehingga mereka disanjung oleh manusia di masa itu bahkan masih tetap disanjung hingga saat ini. Dan sebagaimana yang kita ketahui, mereka ini telah lahir ribuan tahun sebelum kedatangan Rasulullah SAW, Al Qur’an dan Islam. Artinya mereka telah menjadi pemikir dan ahli filsafat tanpa perlu didatangkan Rasulullah, Al Qur’an dan Islam.

Jadi dapat kita pahami bahwa kalau sekiranya Allah tidak mendatangkan Rasulullah dan Al Qur’an pun manusia juga bisa menjadi ahli fikir yang terkenal. Hal ini karena keinginan untuk mencari ilmu pengetahuan, ingin meneliti dan ingin pandai itu adalah fitrah asal yang ada dalam diri manusia, tanpa perlu didorong oleh Islam dan Al Qur’an. Oleh karena itulah maka tidak dapat kita katakan bahwa keagungan dan kebesaran Islam adalah karena Islam mendorong manusia menjadi cendikiawan atau menjadi para pemikir.



Kemudian ada pula sebagian orang yang berpendapat bahwa keagungan Islam itu adalah karena Islam mendorong penganutnya menjadi ahli seni bangunan dan arsitektur sehingga dapat membangun bangunan yang indah seperti masjid Kurtubah yang besar dan indah yang hingga saat ini masih bisa disaksikan. Kemudian dibangunnya Jannatul Aris yang merupakan suatu taman yang indah yang dibangun oleh umat Islam di zaman kerajaan Islam di Spanyol (Andalusia). Taman ini begitu indah dan cantik sekali hasil dari seni bangunan umat Islam. Di Spanyol juga terdapat istana Al-Hambra, sebuah bangunan yang terkenal yang juga didirikan oleh masyarakat Islam di waktu itu. Terdapat juga satu bangunan di India yang sangat termasyhur yang dinamai Taj Mahal. Bangunan ini dibangun oleh umat Islam ketika itu dengan jumlah pekerja sebanyak puluhan ribu. Maj Mahal berdiri dengan indah dan gagah hingga ke hari ini.

Mari kita renungkan pendapat tersebut. Kalau hanya untuk mendorong manusia membangun dan mendirikana istana-istana atau bangunan-bangunan yang indah seperti Al-Hambra, Taj Mahal dan sebagainya, kita rasa tanpa didatangkan Rasulullah, tanpa adanya Al Qur’an dan Islam, manusia juga dapat menghasilkan bangunan-bangunan yang indah seperti itu. Sejarah telah memaparkan kepada kita bagaimana imperium Romawi dan Persia yang merupakan dua kekuatan dunia di zaman sebelum Rasulullah SAW dapat melahirkan manusia-manusia yang bisa membangun bangunan-bangunan yang indah dan gagah yang juga masih dapat kita jumpai saat ini.

Juga di dalam Al Qur’an telah digambarkan bagaimana kaum Aad, kaum Tsamud, kerajaan Saba’ di negeri Yaman, ribuan tahun sebelum kedatangan Rasulullah SAW pernah membangun berbagai kemajuan, pernah mendirikan gedung-gedung besar, pernah membangun sistem pengairan yang besar sehingga dapat menyuburkan tanaman-tanaman mereka. Kaum ini juga tidak pernah didorong oleh Al Qur’an dan ajaran Islam. Artinya, tanpa Rasulullah, tanpa Al Qur’an dan tanpa Islam pun mereka juga bisa membangun.



Kemudian pendapat yang lain lagi menyatakan bahwa keagungan dan kebesaran Islam itu karena Islam mendorong penganutnya untuk dapat menguasai bumi ini. Bahkan sampai tiga per empat muka bumi ini pernah dikuasai oleh umat Islam. Memang benar, para sahabat dan umat Islam di zaman salafussoleh telah dapat menguasai tiga perempat dunia ini. Akan tetapi kalau inilah yang menyebabkan Islam itu agung dan besar, maka kita rasa pandangan itu tidak tepat. Justru pandangan ini bisa memperkecilkan Islam karena bangsa-bangsa sebelum Rasulullah seperti bangsa Romawi dan Parsi juga dapat menguasai wilayah jajahan yang begitu luas di tanah Arab. Bangsa Cina juga menguasai daerah jajahan yang luas. Bangsa Yunani juga pernah mempunyai tanah jajahan yang sangat luas sebelum kedatangan Rasulullah dan Islam. Bahkan bangsa-bangsa Eropa di suatu masa dahulu telah dapat menaklukkan banyak negara di dunia ini, termasuk negara kita ini. Mereka tidak didorong oleh Rasulullah dan Al Qur’an. Artinya mereka dapat menaklukkan satu kawasan yang luas tanpa dorongan Rasulullah, tanpa dorongan Al Qur’an dan tanpa dorongan Islam.

Sebenarnya keinginan untuk berkuasa, keinginan untuk membangun dan berkemajuan, juga keinginan untuk mencari ilmu pengetahuan adalah fitrah manusia. Seperti juga manusia ingin makan, ingin berumah tangga dan sebagainya, semua itu adalah fitrah manusia. Semua yang menjadi fitrah manusia, tanpa perlu didorong-dorong, tanpa perlu diajar, semua bangsa dan kaum dapat bertindak secara otomatis dan mengikuti apa saja yang dikehendaki oleh fitrahnya. Oleh karena itu, tanpa Rasulullah, tanpa Al Qur’an dan tanpa Islam, manusia dapat langsung bertindak untuk mencari ilmu pengetahuan, untuk membangun dan berkemajuan dan untuk memiliki wilayah kekuasaan. Dengan demikian maka bukan pada hal-hal tersebut letak keagungan dan kebesaran Islam.

Selanjutnya >> Keagungan dan Kebesaran Islam (II) >>

Posted in Renungan Hati

Baca Selengkapnya..

who am I


Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia!!!!
Bernama Wahyu Nugroho Hadi, bertempat tinggal di Dewi/ Bayan/ Purworejo, bermarkas di SMA NEGERI 1 PURWOREJO, dan berkeliaran di mana-mana!!!!

bertipe suka bercanda alias guyon, terus sekarang lagi sibuk persiapan ujian niy...doakan ya moga lulus and dapat nilai Uapikkkk!!!!
Sekian dulu dariku, lebih lanjut bisa tanya2 sendiri...hehehehe

Baca Selengkapnya..

Kamis, 06 November 2008

SATU ISLAM? SATU INDONESIA? SATU ILUSI!


Ada kontradiksi dalam Bhinneka Tunggal Ika. Konsep itu hanya bisa diwujudkan lewat toleransi, bukan peleburan.

"Hanya dengan persatuan umat Islam bisa berjaya kembali," begitulah kata khatib khutbah Jumat yang sering kita dengar. Sebuah organisasi Islam, Majelis Mujahidin, belum lama ini meminta stasiun televisi menarik iklan layanan masyarakat bertemakan "Islam Warna-Warni" yang dianggap melecehkan. "Islam itu satu, tidak berwarna."

"Persatuan dan kesatuan adalah modal utama kemerdekaan Indonesia." Begitulah bunyi spanduk jalanan untuk memperingati proklamasi kemerdekaan hari-hari ini. "Hanya dengan persatuan, Indonesia bisa menyelesaikan krisis dan keluar dari kemelutnya." Presiden Megawati Soekarnoputri menggaungkan tema itu dalam berbagai kesempatan.

Persatuan! Sayangnya, persatuan adalah kata yang problematis, baik dalam agama maupun nasionalisme.

"Satu Islam" adalah ilusi. Sejarah Islam menyaksikan betapa perbedaan menafsirkan Islam sudah berlangsung hanya sebentar setelah Rasulallah Muhammad wafat. Silang-sengketa bahkan sempat menumpahkan darah. Tiga dari empat khalifah pertama tewas terbunuh.

Dan berabad kemudian, bersama menyebarnya Islam ke berbagai pelosok dunia, kita menyaksikan Islam yang demikian beragam. Ada dua aliran besar dalam Islam: Sunni dan Shiah. Dalam Sunni sendiri ada empat mazhab yang dikenal. Ahmadiyah, salah satu sekte yang populer di Pakistan, punya dua pecahan: Lahore dan Qadian. Ada ratusan kelompok tarekat (sufi) di seluruh dunia yang masing-masing boleh dikatakan khas. Bercampur dengan politik dan tradisi, kita juga mengenal dua organisasi besar Islam di Indonesia yang berbeda watak: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Bagi orang Muhammadiyah, hanya ada "satu Islam" seperti yang dipahaminya. Demikian pula bagi kaum Nahdlyin. Bagi orang Iran, Shiah adalah "Islam yang satu" seperti bagi orang Malaysia Sunni itu "Islam yang satu" pula. Islam tidak unik dalam keragamannya. Semua agama --Yahudi, Kristen, Buddha dan Hindu-- mengenalnya. Tidak unik pula bahwa, dibaurkan oleh kepentingan politik, ekonomi dan identitas budaya, masing-masing pecahan agama saling bersaing untuk merebut pengaruh. Minus perang dan persengketaannya yang berdarah, keragaman mazhab dalam satu agama itu adalah keindahan sekaligus keniscayaan.

Islam, seperti ditunjukkan oleh sejarahnya, adalah berwarna. Bukan berarti masing-masing mazhab dan aliran tak bisa bekerjasama atau "bersatu". Tapi, itu hanya mungkin dipahami lewat kesediaan untuk menerima ambiguitas manusia: "Kita mempercayai sesuatu yang mutlak, tapi mentoleransi kemungkinan orang lain mempercayai kemutlakan berbeda."

Menerima kemutlakan sekaligus mengakui relativitas adalah keniscayaan orang dalam beragama seraya bisa hidup berdamai dengan manusia lain.

Memaksakan "satu Islam" kepada semua penganut Islam, sebaliknya, tentulah menyalahi watak toleransi Islam. Obsesi seseorang atau suatu kelompok terhadap yang "satu" hanya mungkin dilakukan lewat pemaksaan, seringkali lewat kekuasaan senjata, dan itu menyalahi konsepsi Islam yang dasar, bahwa "tidak ada paksaan dalam agama".

Islam juga tidak unik dalam sejarahnya yang seringkali diwarnai darah. Gereja Katolik dan kaum Protestan telah memanfaatkan kolonialisme-penindasan ekonomi, politik dan senjata-untuk menyatukan umat manusia di bawah Kristus yang satu. "Persatuan" yang bersifat menindas bahkan berlaku hampir dalam semua ideologi, termasuk komunisme dan nasionalisme.

"Satu Indonesia", dalam konteks sejarah nasional Indonesia, telah berulangkali menjadi sarana untuk menindas. Pada zaman Demokrasi Terpimpin, Presiden Soekarno yang terobsesi dengan persatuan telah menjadikan slogan "persatuan dan kesatuan" menjadi dalih untuk memberangus partai politik. Begitu pula dengan Rezim Soeharto yang memanfaatkan "asas tunggal Pancasila" untuk membungkam suara-suara berbeda. Dan pada tahun-tahun terakhir, slogan yang sama dipakai pula oleh kaum nasionalis di PDI Perjuangan dan kaum militer untuk menolak federalisme.

Negeri kita memang mengenal konsep "Bhinneka Tunggal Ika" atau "berbeda-beda tapi satu". Tapi dalam berbagai zaman, kita cenderung memakai "ika" untuk memberangus "kebhinnekaan"; keseragaman untuk membunuh beragam aspirasi politik dan budaya.

Seperti dalam agama, penyeragaman interpretasi terhadap ideologi negara hanya dimungkinkan lewat pemaksaan, penahanan, pembunuhan, dan penindasan budaya.

Pada 1960-an kita memaksa orang-orang keturunan Tionghoa, misalnya, untuk mengganti nama mereka dengan nama Jawa, Sunda atau Batak serta melikuidasi budaya dan keyakinannnya demi "persatuan". Melihat kerusuhan Mei 1998, ketika Orde Baru rontok, kita baru menyadari bahwa pembauran seperti itu hanya bersifat permukaan dan bahwa perbedaan tetap berakar jauh di alam bawah sadar.

Persatuan memang diperlukan, terutama ketika negeri menghadapi krisis. Tapi, persatuan hakiki hanya mungkin berlangsung jika masing-masing pihak mengakui perbedaan seraya menyadari pentingnya bekerja sama untuk mewujudkan kepentingan bersama. Itulah pula esensi dari persatuan yang muncul dalam Sumpah Pemuda 1928. Persatuan bukanlah peleburan.

Jika kita berpendapat bahwa persatuan dalam makna peleburan merupakan kunci kemerdekaan Indonesia, kita layak untuk menyimak kembali perdebatan 1930-an antara Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di satu pihak dengan Soekarno di pihak lain.

Pada waktu itu, Soekarno yang terobsesi oleh persatuan menginginkan partai-partai politik bergabung dalam wadah tunggal Permufakatan Pehimpunan Politik Kebangsaan Indonesia. Hatta tidak sependapat. Bagi dia perhimpunan itu tidak perlu menjadi satu organisasi tunggal melainkan sebaiknya menjadi cikal bakal parlemen Indonesia merdeka. Parlemen yang mengakui keragaman partai-partai.

Konsep kemerdekaan Indonesia, bagi Hatta yang cenderung demokrat dan federalis, tidak ada kaitannya dengan "peleburan atau penyatuan pemikiran politik". Sjahrir mendukung Hatta dan berpendapat bahwa tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer dan oleh karena itu insidental. Usaha untuk menyatukan bagian-bagian secara paksa hanya akan menghasilkan "anak banci". Persatuan seperti itu, menurut Sjahrir, hanya akan menjadi "sakit, tersesat dan merusak pergerakan".

Orang memang cenderung melihat perbedaan sebagai perpecahan. Keliru. Ekosistem yang kuat di alam dipelihara oleh kebhinnekaan "spesies"-nya. Makin beragam spesies di dalamnya, makin stabil ekosistem itu. Hutan tropis Kalimantan akan segera punah jika semua lumut dan ganggang dipaksa menjadi pohon jati yang seragam. Sama pula dengan Indonesia.

"Bhinneka Tunggal Ika" hanya akan menjadi konsep yang efektif lewat toleransi atas perbedaan, bukan peleburan. Itu tidak hanya berlaku untuk Islam, tapi juga untuk Indonesia.***

Farid Gaban



Islam dan Pluralitas: Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan
Penulis: Dr. Muhammad Imarah
Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani
Tahun terbit: Shafar 1420H - Juni 1999M
Penerbit: Gema Insani Press, Jakarta
Jl. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740
Telp. (021) 7984391 7984392 - 7988593
Fax: (021) 7984388


Baca Selengkapnya..

Zam Zam Water

Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota




Research by Tariq Hussain, Riyadh



Come the Haj season, and I am reminded of the wonders of Zum Zum water. Let me go back to how it all started. In 1971, a doctor wrote to the European Press, a letter saying that Zum Zum water was not fit for drinking purposes. I mmediately thought that this was just a form of prejudice against the Muslims and that since his statement was based on the assumption that since the Ka'aba was a shallow place (below sea level) and located in the center of the city of Makkah, the wastewater of the city collecting through the drains fell into well holding the water.

Fortunately, the news came to King Faisal's ears who got extremely angry and decided to disprove the doctor's provocative statement. He immediately ordered the Ministry of Agriculture and Water Resources to investigate and send samples of Zum Zum water to European laboratories for testing the potability of the water. The ministry then instructed the Jeddah Power and Desalination Plants to carry out this task. It was here that I was employed as a desalting engineer (chemical engineer to produce drinking water from seawater).

I was chosen to carry out this assignment. At this stage, I Remember that I had no idea what the well holding the water looked like. I went to Makkah and reported to the authorities at the Ka'aba explaining my purpose of visit. They deputed a man to give me what ever help was required. When we reached the well, it was hard for me to believe that a pool of water, more like a small pond, about 18 by 14 feet, or 6 x 4.5 meters was the well that supplied millions of gallons of water every year to Hajjis and millions of gallons to visitors since it came into existence at The time of Hazrat Ibrahim A.S., many, many centuries ago.

I started my investigations and took the dimensions of the well. I asked the man to show me the depth of the well. First he took a shower and descended into the water. Then he straightened his body. I saw that the water level came up to just above his shoulders. His height was around five feet, eight inches. He then started moving from one corner to the other in the well (standing all the while since he was not allowed to dip his head into the water) in search of any inlet or pipeline inside the well to see from where the water came in. However, the man reported that he could not find any inlet or pipeline inside the well. I thought of another idea. The water could be withdrawn rapidly with the help of a big transfer pump which was installed at the well for the Zum Zum water storage tanks. In this way, the water level would drop enabling us to locate the point of entry of the water. Surprisingly, nothing was observed during the pumping period, but I knew that this was the only method by which you could find the entrance of the water to the well. So I decided to repeat the process. But this time I instructed the man to stand still at one place and carefully observe any unusual thing happening inside the well. After a while, he suddenly raised his hands and shouted, "Alhamdollillah! I have found it. The sand is dancing beneath my feet as the water oozes out of the bed of the well." Then he moved around the well during the pumping period and noticed the same phenomenon everywhere in the well. Actually the flow of water into the well through the bed was equal at every point, thus keeping the level of the water steady. After I finished my observations I took the samples of the water for European laboratories to test.

Before I left the Ka'aba, I asked the authorities about the other wells around Makkah. I was told that these wells were mostly dry.

When I reached my office in Jeddah I reported my findings to my boss who listened with great interest but made a very irrational comment that the Zum Zum well could be internally connected to the Red Sea. How was it possible when Makkah is about 75 kilometers away from the sea and the wells located before the city usually remains dry? The results of the water samples tested by the European laboratories and the one we analyzed in our own laboratory were found to be almost identical.

The difference between Zum Zum water and other water (city water) was in the quantity of calcium and magnesium salts. The content of these was slightly higher in Zum Zum water. This may be why this water refreshes tired Hajis, but more significantly, the water contains fluorides that have an effective germicidal action. Moreover, the remarks of the European laboratories showed that the water was fit for drinking.

Hence the statement made by the doctor was proved false. When this was reported to King Faisal he was extremely pleased and ordered the contradiction of the report in the European Press. In a way, it was a blessing that this study was undertaken to show the chemical composition of the water. In fact, the more you explore, the more wonders surface and you find yourself believing implicitly in the miracles of this water that God bestowed as a gift on the faithful coming from far and wide to the desert land for pilgrimage.

Let me sum up some of the features of Zum Zum water.

1. This well has never dried up. On the contrary it has always fulfilled the demand for water.
2. It has always maintained the same salt composition and taste ever since it came into existence. Its potability has always been universally recognized as pilgrims from all over the world visit Ka'aba every year for Haj and Umrah, but have never complained about it. Instead, they have always enjoyed the water that refreshes them.
3. Water tastes different at different places. Zum Zum water's appeal has always been universal.
4. This water has never been chemically treated or chlorinated, as is the case with water pumped into the cities. Biological growth and vegetation usually takes place in most wells. This makes the water unpalatable owing to the growth of algae causing taste and odor problems. But in the case of the Zum Zum water well, there wasn't any sign of biological growth.

Centuries ago, Bibi Hajra A.S. searched desperately for water in the hills of Safa and Marwa to give to her newly born son Hazrat Ismail A.S. As she ran from one place to another in search of water, her child rubbed his feet against the sand. A pool of water surfaced, and by the grace of Allah, shaped itself into a well which came to be called Zum Zum water.

Subject: [is-lam] Zam Zam Water (fwd)
Date: Wed, 20 Dec 2000 15:07:55 +0300 (SAUST)
From: PRAMANA ASTRA AGUS
To: is-lam@isnet.org

Baca Selengkapnya..